Menulis Itu Berekspresi

Oleh: Fitta Ummaya Santi*

Menulis adalah proses menuangkan ide atau gagasan kedalam sebuah buku, kertas atau bahan lain yang dapat dijadikan bahan menulis. Ide yang dituliskan dimaksudkan untuk menjadi sesuatu hal yang dapat dimaknai dan dinikmati. Menulis pada dasarnya adalah berekspresi. Yaitu berekspresi lewat tulisan. Perihal menulis memiliki keleluasaan penuh terhadap ide yang dimunculkan. Kapan saja dan dalam kondisi bagaimana pun, orang tidak dilarang untuk berekspresi (menulis). Setiap ide atau gagasan dapat disampaikan dalam tulisan secara mengalir, leluasa, bebas dan tidak terbatas.

Menulis ibarat ngomong. Perbedaannya terletak pada alat penyampainya. Kalau ngomong, pesan yang disampaikan lewat mulut yaitu berupa kata-kata langsung dari yang berbicara. Sementara kalau menulis, pesan yang disampaikan lewat tulisan. Kenyataannya, bagi sebagian orang lebih memilih ngomong secara langsung dari pada menuliskan. Menulis dianggap sebagai hal yang sulit dan membingungkan. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai momok (ketakutan) yang dihindari.

Sudah bukan hal baru lagi untuk diinformasikan, bahwasannya menulis itu bukan bakat bawaan atau keturunan. Namun suatu skill atau kemampuan yang dapat diasah dan dibelajarkan. Tentunya melalui latihan-latihan ringan. Latihan itu dapat diawali dari menuliskan kejadian yang dialami sendiri. Bisa juga berawal dari menulis diary. Kemudian dikembangkan lagi menjadi tulisan yang bermuatan ilmu atau yang agak berat. Yang terpenting adalah sudah sejauh mana kebiasaan yang kita bangun. Ibarat pisau, jika dibiarkan saja akan menjadi karatan. Namun jika dibiasakan diasah terus dipastikan akan menjadi pisau yang tajam. Begitu pula dengan menulis. Ketika kemampuan menulis kita sering diasah, maka dapat dipastikan kemampuan menulis kita akan semakin berkembang. Ide akan bermunculan setiap kita melihat sesuatu disekitar kita. Dan apa pun akan menjadi bahan tulisan yang menarik untuk dikupas.

Kekeliruan yang sering diungkapkan oleh sebagian orang adalah mengatakan “saya tidak punya bakat menulis”. Ini sebenarnya kekeliruan yang tanpa disadari. Dan dimungkinkan akan membawa dampak negatif bagi diri sendiri. Kini terhipnotis atau terjebak dengan kata-kata yang telah terucapkan, dan akhirnya kita benar-benar tidak ingin mencoba. Dan pada akhirnya kita tidak pernah bisa menghasilkan tulisan.

Padahal kenyataannya, kita jumpai orang-orang yang dulu tidak memiliki bakat menulis. Namun karena kegigihannya untuk belajar dan mengasah kemampuannya, kini mereka berhasil dan besar dengan karya-karyanya.

Proses untuk menghasilkan karya atau tulisan yang baik harus didukung dengan keseriusan. Yakni keyakinan akan hal yang kita tulis dengan banyak melihat realita yang ada. Jika kita sudah yakin dengan apa yang kita tuliskan, dimungkinkan tulisan itu juga akan mampu membuat yakin si pembaca. Begitu pula sebaliknya, jika kita sendiri tidak yakin dengan apa yang kita tuliskan. Jangan harap si pembaca juga akan puas dengan tulisan kita.

Untuk dapat menulis dengan baik dan bermakna, tentulah harus didukung dengan kegiatan membaca. Dari membaca, informasi-informasi baru akan kita dapatkan. Hal itu akan menjadi sumber tambahan dan bumbu bagi tulisan kita. Sehingga akan menyebabkan tulisan kita terkesan lebih hidup. Karena sesungguhnya perihal menulis erat kaitannya dengan menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Dari situlah diharapkan tuliskan kita dapat mempengaruhi si pembaca.

Jika kita mencermati apa yang ada disekitar kita, sebenarnya adalah sumber tulisan. Mulai dari kehidupan kita sendiri, lingkungan yang kita diami, atau hal-hal diluar apa yang kita lihat. Keterbatasan akan kecermatan, inspirasi kadangkala menjadi penghambat utama menemukan ide. Sehingga seringkali kita merasa kehabisan bahan untuk ditulis. Padahal semua yang kita lihat dan alami adalah sumber ide bagus. Apalagi jika kita mampu mengolahnya menjadi suatu tulisan yang baik. Bisa jadi itu merupakan pelajaran yang berharga bagi pembaca.

Inti dari ekspresi menulis adalah apa yang kita sampaikan merupakan buah pikir dari yang kita lihat, dengar dan mungkin rasakan (pengalaman pribadi). Orang boleh saja tidak sepakat dengan apa yang kita tuliskan. Tetapi ekspresi menulis tidak dapat dibatai, selagi kode etik seorang menulis tidak dilanggar.

Perihal menulis memiliki dampak positif, diantaranya : (1) tulisan akan dapat menjadi kajian buat si pembaca, (2) dapat dipublikasikan ke banyak orang, (3) bersifat terbuka dan memiliki bidang yang beragam, (4) ekspresi menulis tidak dibatasi, (5) ide luas.

1 comment Mei 16, 2008

Jurus Jitu Agar Mudah Menulis

1. Banyak membaca

2. Suka menulis diary

3. Suka berkorespondensi

4. Mencintai bahasa

5. Membuat deskripsi

*Helvy Tiana Rosa

Add comment Mei 16, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Add comment Mei 8, 2008


Categories

  • Blogroll

  • Feeds